Feeds:
Posts
Comments

Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan november
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan november
dihapusnya jejak-jejak kakiyang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan november
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar bunga itu

(puisi Sapardi Djoko Damono-Hujan di bulan Juni-)

Hujan turun kembali tahun ini. Seperti tahun-tahun sebelumnya, dimulai bulan september dan seterusnya dalam bulan-bulan yang berakhiran “ber”, hujan turun lagi. Tak banyak bedanya. Di beberapa tempat petani bersuka cita karena mereka akan memulai musim tanam lagi, di tempat yang lain, warga bersiap-siap “menyambut” datangnya banjir dengan mempersiapkan diri misalnya dengan menaikkan barang-barang ke loteng atau tempat yang lebih tinggi di bagian rumah mereka.

Ada orang-orang yang mengaku bisa mengendalikan hujan. Mereka mengaku bisa mencegah hujan turun, atau memindahkannya ke tempat lain jika suatu tempat hujan tidak dikehendaki turun. Mereka lah yang biasa disebut “pawang hujan”. Mengenai manjur atau tidaknya ilmu mereka? Bolehlah kita bertanya kepada beberapa pegawai kantor pemda yang bertugas mempersiapkan jalannya upacara tujuh belas-an, ketua panitia persiapan kampanye parpol, keluarga atau kerabat yang akan melangsungkan pernikahan, dan bahkan panitia even organizer lomba festival band.

Saat hujan tak kunjung hadir membahasi bumi, manusia mengeluh kepada Tuhan, saat musim hujan sudah hadir, mereka pun tetap mengeluh, katanya hujan menghambat kinerja mereka, kegiatan-kegiatan jadi terganggu, agenda-agenda penting harus dijadwal ulang, bikin banjir, dan berbagai macam bentuk keluhan lainnya.

Bagiku, hujan sederhana saja. Saat titik-titik air turun ke bumi, semua yang dikenainya jadi basah. Itulah hujan, sederhana saja. Di Kota besar yang penuh gedung pencakar langit hujan bisa turun. Di perkampungan kumuh yang penuh sesak hujan bisa turun, di desa yang gemah ripah loh jinawi dengan sawahnya hujan bisa turun, di laut hujan bisa turun, di padang pasir hujan bisa turun (walau tidak sering), di manapun hujan bisa turun.

Kadang hujan turun dengan pertanda-pertandanya, awan mendung, langit gelap, kadang dihiasi petir dan guntur, tapi tidak jarang pula hujan turun dengan tiba-tiba, langsung deras pula, hujan macam inilah yang sering membuat orang mengeluh.

Ah bagiku tetap biasa saja, hujan turun, kemudian semuanya basah. Biasa saja. Bagaimana pun tanpa hujan air tidak akan turun ke bumi, walau air laut berlimpah kita tidak bisa meminumnya, menggunakannya untuk memasak, bertani, dan sebagainya. Hanya ikan dan penghuni laut lainnya yang merasakan manfaat air laut yang sesungguhnya. Tapi dengan hujan? Air sungai kembali mengalir, sawah-sawah kembali bisa ditanami, pak tani kembali memproduksi beras, gandum, jagung, dan sejenisnya dan manusia bisa makan, habis makan punya tenaga, terus bisa kerja, cari duit, dapat rejeki, beli rumah, kawin, punya anak, dan sebagainya. Jadi kalo dipikir-pikir, tetap saja semua berawal dari hujan (maksa ya?hehehe).

Bagiku Tuhan tidak pernah salah. Hujan pun Dia yang membuatnya turun ke bumi, permasalahan kadang-kadang menimbulkan masalah dan bahkan musibah, bagiku manusialah yang seharusnya berfikir. Atau sebagaimana karunia-karunia Tuhan yang lain, kadang aku menganggap hujan sebagaimana mukzijatnya juga. Tidak semua makhluknya bisa menerima dan memaknainya dengan benar. Bagiku Hujan adalah Cinta Tuhan yang universal yang bisa dirasakan oleh seluruh makhluk di muka bumi ini, tidak peduli dia manusia, hewan, tumbuhan, makhluk bersel satu, atau mungkin juga jin dan sebangsa lelembut lainnya? Tidak peduli manusia dengan keyakinan apapun, dengan agama apapun, baik dia atheis, komunis, sosialis, liberalis, atau is-is lainnya, dia akan tetap bisa merasakan hujan. Ya, hujan tidak pernah pandang bulu, tidak ada yang bisa mengingkari kehadirannya.

Seluruh kehidupan ini tidak akan bisa berlangsung tanpa air, dan air berasal dari hujan. Air tanah pun dulunya juga resapan dari air hujan. Hujan bagiku adalah tetap Cinta Tuhan yang sebenar-benarnya kepada semua makhluknya.

Aku selalu merindukan hujan, karena bagiku hujan dan cinta tidak ada bedanya. Hujan kadang datang dengan pertanda, kadang tiba-tiba. Cinta pun demikian. Semua orang pasti pernah dibasahi oleh hujan, demikian pula dengan cinta. Bagiku dapatlah kita belajar mengartikan cinta ini dengan mencari makna dari hujan. Pernahkah kita berada pada suatu saat di mana cuaca sangat terik, tiba-tiba hujan turun dengan cepat, dan deras? Aku pernah, kadang tanpa persiapan mantel hujan atau jaket, dan tempat berteduh, dan kondisi itu yang sering disebut dengan “kehujanan”. Akupun pernah merasakan cinta yang serupa, yang datang dengan tiba-tiba dan kadang (menurutku) salah waktunya. Lalu apa namanya? cinta yang tiba-tiba? atau meminjam beberapa judul film, jadi “mendadak cinta”? Ah terserahlah. Tapi cinta yang tiba-tiba kadang lebih indah. Mungkin bahasa Inggrisnya “Accidentanly in Love”. Accident itu kan insiden ya? Insiden kan musibah? tapi insiden dalam cinta? bisa jadi sangat indah. Seperti kehujanan tadi. Saat panas kering, kadang kehujanan memberikan kesenangan tersendiri. Bagiku hujan selalu romantis. Liat saja film india, saat-saat paling membahagiakan saat cinta bertemu antara pemeran pria dan wanitanya, pasti “dilengkapi” dengan hujan. Menari-nari dan bernyanyi dalam hujan.

Yah begitulah, kehujanan dalam cinta, hehehe…. Biarlah aku pakai istilah-istilah yang ngawur. Toh artinya sama saja. Cinta dan Hujan bagiku serupa. Saat kita kehujanan, kadang kita mencari-cari dan mendapatkan begitu saja tempat berteduh. Kadang kita bisa diterima menumpang berteduh di rumah orang, kadang juga anjingnya menyalak saat kita berusaha berteduh di pinggir-pinggir rumah majikannya.

Begitu juga saat kehujanan dalam cinta. Kadang kita menemukan tempat berteduh yang tepat, di sebuah beranda rumah dengan penghuni yang ramah, yang terkadang menyuguhkan pisang goreng dan teh hangat untuk kita. Tapi berteduh ya tetap saja berteduh. Kalo kita kehujanan dan berlari ke rumah kemudian mandi, ganti pakaian, dan membuat makanan hangat kemudian tidur (karena tidur saat hujan sangat nyaman) bukan berteduh namanya. Itu pulang namanya. Berteduh ya tetap saja berteduh. Melihat sebuah rumah atau tempat asing, kemudian meminta ijin kepada pemiliknya untuk sejenak berindung dari kehujanan di rumahnya. Saat berteduh, ya paling jauh kita hanya akan diterima di beranda saja. Walau ada pisang goreng dan teh hangat, ya tetap saja setelah hujan reda dan berhenti harus segera pergi dan pulang ke rumah. Saat berteduh, kadang si pemilik rumah menemani kita dengan obrolan-obrolan ringan, canda dan kadang sedikit tawa. Tapi ya tetap saja berteduh. Berhenti sejenak di suatu tempat (asing) untuk berlindung dari hujan yang tiba-tiba turun dan harus beranjak pergi setelah hujan reda dan berhenti.